JODOHISASI POLITIK

Opini , Penulis Taufik Ramli

JODOHISASI POLITIK
Taufik Ramli

Bongkar Pasang jelang penyelenggaraan Pilkada adalah hal yang lazin terjadi, dihampir seluruh daerah baik itu level Kabupaten, Kotamadya, Provinsi dan sampai pemilihan Pilpres sekalipun.  Siapa berpasangan, siapa mendapatkan apa, siapa mendapatkan berapa adalah pertanyaan yang akan tersaji dibalik panggung  untuk para elit dalam menyusun bangunan  koalisinya, karena kemenangan   nantinya akan sangat ditentukan oleh figur bukan lagi partai politiknya, karena partai politik kini hanya sebagai alat kendaraan mendapat tiket pencalonan dengan persyaratan 20 % kurisi dilegislatif atau minimal memiliki 5 kursi di parlemen.  

Maka persoalannya menjadi lebih kompleks karena partai politik tidak hanya dihadapkan kepada persoalan  partai berwarna apa yang cocok untuk menjadi kawan koalisi, tapi juga figur siapa yang pantas untuk dicalonkan. Akan ada banyak pertimbangan yang harus menjadi bahan pikiran sebelum diperas menjadi  keputusan siapa yang pantas dicalonkan sebagai Calon Bupati dan Siapa yang laik jadi wakilnya, terlebih konstelasi politik yang ada di Nunukan saat ini  dihadapkan pada kondisi partai-partai harus memilih apakah  menjadi “pengawal”  untuk menjagokan Bupati sebelumnya yang akan kembali mencalonkan diri atau memilih jalan ekstrem menjadi  ” Penantang” melawan Petahana.

Hingga tulisan ini saya buat belum ada satu pun yang secara resmi mengumumkan kepada publik paket pasangan  yang akan diusung , baik dari kubu petahana maupun dari kubu penantang, keduanya masih memilih merahasiakannya. Misteri Jodohisasi Politik dalam ajang Pilkada Nunukan tahun ini pun akan terungkap jelas pada waktunya nanti, tentunya sebelum masa pendaftaran calon Bupati dan Wakil Bupati Nunukan di tutup di Kantor KPU Nunukan. Namun mari kita merelevansikan konsep jodoh dalam Islam kedalam konteks politik kekinian, karena ada beberapa hal yang menurut saya memiliki korelasi, dimana jodoh sebenarnya dalah bagian dari cara Tuhan mengungkapkan takdir manusia. Dan dalam Politik khususnya Pilkada Jodohisasi Calon Bupati dan Wakil Bupati Nunukan 2020 nanti adalah pertaruhan siapa yang benar-benar berjodoh, artinya memilih pasangan calon yang tepat, yang bisa saling mengisi dan saling melengkapi, karena konsekuensinya  adalah  bila berjodoh  maka pasangan ini dipastikan akan melenggang mulus  dijalur  kemenangan ,sebaliknya  kalah berarti bisa jadi ada yang salah dan keliru dalam strategi  tim koalisi dalam memutuskan dan  memilih “ menjodohkan”   pasangan yang diusungnya alias pasangan yang dijagokan mungkin memang tidak berjodoh.

Konsep jodoh menurut Islam merupakan bagian dari konsep takdir, artinya hal tersebut sudah menjadi ketentuan Allah karena sesungguhnya Allah telah menciptakan jodoh sesuai dengan kualitas dan kapasitas  dan akan  dipertemukan diwaktu yang tepat. jadi tidak ada istilah terlalu cepat atau terlalu lambat, dan tak perlu terburu-buru dalam menentukan pilihan pendamping calon bupati dan wakil bupati. Namun bukan berarti  Jika semua sudah ditakdirkan, maka tak perlu lagi repot-repot berusaha?

Jika berpikir demikian maka itu adalah pemikiran yang keliru sebab manusia diperinthakan untuk beriktiar dan berusaha,  bekerja, serta berdoa termasuk pula dalam memilih dan mencari jodoh yang terbaik , dalam konterks ini Perjodohan Politik di Pilkada Nunukan  akan melalui proses lobi-lobi, silahturahmi politik sana-sini, komunikasi politik kepartai ini dan partai itu, tokoh ini dan tokoh itu, suku ini dan suku itu, semua usaha harus dijajali yang dan gencar terjadi dan semua itu lakukan  harus berorinetasi pada niat untuk mengabdikan diri pada rakyat Nunukan, dan memajukan daerah Nunukan terntunya,  bukan untuk kepentingan pragmatis seperti  meraih jabatan dan keuntungan pribadi dan golongan saja lewat deal-deal gelap dalam proyek. dalam Qs At-taubah 105.

“dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Memilih  figur untuk menjadi pendamping dalam pencalonan Pilkada yang sesuai dengan kriteria partai masing-masing memang tidak semudah membalik kertas suara terntunya. Banyak hal yang dipertimbangkan untuk menentukan siapa sosok  tepat  diusung menjadi Calon Bupati dan siapa wakilnya yang akan  mengarungi, dan sama-sama berjuan dalampertarungan diajang Pilkada nanti.

Namun memang, memilih pasangan harus melibatkan, (chemistry) sehingga ketika menemukan seseorang  figur dirasa cocok, maka selanjutnya jangan mengabaikan hal-hal yang seharusnya menjadi kriteria wajib. Karena 4 ( empat ) faktor ini akan menjadi kunci dalam menentukan baik tidaknya kelangsungan kongsi serta keharmonisan dalam koalisi partai dan kandidat yang diusung.

 Dalam Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk urusan jodoh. Menurut hadist Nabi Muhammad SAW, setidaknya ada 4 kriteria ketika seseorang ingin mencari pendamping hidup. Apa saja kriteria yang menjadikan faktor dlam memilih pasangan dalam konteks berpolitik tersebut?

1.  Agamanya, Yakni Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Agama seharusnya dijadikan kriteria utama ketika seseorang menentukan pasangan hidup baik dalam rangka membangun keluarga maupun dalam menyusun strategi berpolitik, dalam hal ini wajib dan harus memilih figur yang memenuhi unsur kriteria beragama, karena seseorang yang beragama pasti memiliki standar moral dalam kehidupannya, orang yang baik agamanya pastinya memiliki tingkat ketaqwaan yang tinggi. Sehingga akan menjadikan sikap prilaku ,dan berpikirnya lebih memiliki ruh kebaikan karena pondasi agama yang baik, idealnya calon pemimpin kita nantinya dikenal baik agamanya. Dengan ketaqwaannya maka si calon pemimpin nantinya ini akan menjaga diri dari adzab Allah  dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Untuk itu, carilah pigur yang memenuhi criteria ini.

2. Fisik , Yakni Memiliki Elektoral yang Tinggi ( Popularitas )

Tidak dapat dipungkiri jika faktor fisik selain sehat secara jasmani dan rohani, fisik yang dimaknai sebagai sumber elektoral pun menjadi salah satu kriteria ketika memilih para elit partai politik   merumuskan siapa berpasangan dengan siapa untuk maju dalam pertarungan Pilkada Nunukan. Popularitas atau elektoral adalah tingkat keterpilihan publik pada calon tersebut sehingga sangat berperan besar, karena hal ini menjadi landasan pemilih dalam menentukan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Kecendrungan pemilih dalam melihat popularitas calon didorong oleh pengetahuan pemilih tentang figur tersebut, semakin dikenal maka akan semakin besar kemungkinan terpilihnya. Itulah kenapa hasil survey selalu menjadi alasan setiap partai politik dalam menentukan siapa yang akan mereka jagokan.   Dalam hal ini proses taaruf (pengenalan) tidak boleh disampingkan. Partai Politik pengusung harus sanggup menemukan titik temu dari figur yang akan dipasangkan, cocok atau tidak, bisa bekerjasama, dan bisa saling melengkapi satu sama lain dalam kata lain ia hrus bisa bersinergi bersama dan menjadi Dwitunggal, karena tak jarang banyak pasangan Pilkada yang menang justru,  akhirnya pecah kongsi alias “cerai” karena sudah tidak sejalan lagi, dan tidak bisa melanjutkan pemerintahan bersama-sama

3. Nasabnya, Yakni Track Rekord Calon ( Citra )

Mengenal dan mengetahui tentang nasabnya (asal usul), atau sebut saja track record alias rekam jejak calon, jelas akan mempengaruhi citra calon tersebut. Apakah dikenal baik atau tidak selama ini. Siapa pun dia, hal ini wajib menjadi modalnya. Citra baik dalam politik terkadamg  memegang kunci kemenagan dalam berpolitik. Tidak heran ada istilah “Pencitraan“ sebagai bagian dari strategi dalam mengenalkan atau mengampanyekan calonnya agar makin dikenal luas oleh publik. Karena Politik sejatinya adalah show, ia adalah tontonan bagi masyarakat, didalamnya memuat adegan kesan, citra, penampilan pemerannya. Yang berhasil memikat tentu akan menjadi aktor mendapat penghargaan sebagai pemeran terbaik. Alias memenangkan nominasi di Pilkada dari kompetitor lainnya. Maka Partai Politik harus jeli melihat faktor ini sebelum mengusung pasangan yang akan maju, jangan sampai ditengah jalan calon tersebut malah tersangkut kasus yang bisa merusak reputasi dan nama baik calon, hal ni tentunya akan merusak rencana kemenagan yang telah disusun rapi.

4.  Harta , Yakni Financial Calon

Tidak dipungkiri banyak pasangan yang tidak langgeng karena perbedaan ini. Salah satu hikmah dari anjuran ini ialah kesetaraan dalam agama dan kedudukan sosial dapat menjadi faktor kelanggengan rumah tangga. begitu juga urusan finansial dalam politik, sangat menentukan langengnya pasangan kandidat yang diusung. Apalagi kondisi politik kita yang konsumtif baik dalam hal logistik mapun SDM, semuanya membutuhkan dana untuk menggerakkan mesin politik. Ongkos politik memang menjadi polemik yang tak ada habis-habisnya, dan sudah menjadi kewajaran bahwa Poltik itu memang barang mewah, ia hanya bisa dibeli oleh orang-orang yang berduit (mapan secara ekonomi). Maka penjatahan siapa keluar berapa harus jelas, jangan sampai ada pihak yang merasa dirugikan dan merasa untung sendiri.

Namun dari keempat faktor diatas, Rasulullah menganjurkan memilih poin Pertama yakni Agama sebagai alasan utama dalam menentukan pilihan tak terkecuali juga dalam politik, karena jelas dengan agama pemimpin yang terpilih nantinya adalah pemimpin yang baik karena ia tahu dan sadar  betul amanah yang diembannya kelak bukan saja disumpah di Dunia tapi juga di Akhirat kelak. Wallahualam.