Membludaknya Penumpang dan Seruan Bersama Pedoman Pelaksanaan Idul Fitri 1441 Hijriyah di Nunukan

Membludaknya Penumpang dan Seruan Bersama Pedoman Pelaksanaan Idul Fitri 1441 Hijriyah di Nunukan
Nunukan – Membludaknya penumpang kapal Ferry KM.Manta ke pulau Sebatik kabupaten  Nunukan Kalimantan Utara di H+2 perayaan hari raya Idul Fitri 1441 Hijriah di tengah pandemic Corona belum disikapi oleh pemerintah dan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.
 
Tidak terlihat adanya pembatasan jarak atau social distancing yang selama ini terus diteriakkan sebagai salah satu solusi memutus penyebaran wabah corona, jenuhnya masyarakat yang terus berdiam diri di rumah menjadi salah satu alasan mereka berbondong bondong menuju sejumlah destinasi wisata mangrove maupun pantai di pulau yang berbatasan langsung dengan RI – Malaysia tersebut.
 
Selain pola fikir dan himpitan ekonomi ditambah kebutuhan perut, masyarakat masih banyak yang berpegang teguh dengan pola fikir cukup dengan menjaga kesehatan dan minum obat, mayoritas beranggapan penyakit tidak perlu ditakutkan karena pasti akan berakhir dengan sendirinya meski entah kapan, semua punya Tuhan yang pasti senantiasa akan melindungi sehingga tidak akan terkena penyakit tersebut. Kalaupun akhirnya kena, itu sudah menjadi kehendak Tuhan.
 
Lalu apakah fenomena ratusan penumpang KM.Manta ini bakal mendatangkan gelombang kedua covid -19 yang lebih besar lagi ? dan bagaimana sikap pemerintah khususnya pemerintah daerah yang telah menandatangani kesepakatan bersama dengan menulis sejumlah larangan yang harus dipedomani dalam perayaan idul fitri kali ini?
 
Sebagaimana diberitakan, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) Nunukan Kalimantan Utara menyerukan larangan mudik, takbir keliling, sholat ied 1441 Hijriyah di rumah saja dan silaturahmi dilakukan secara daring di masa pandemi covid-19 yang masih mewabah.
 
Aturan ini dituangkan dalam Seruan Bersama tentang pedoman pelaksanaan perayaan idul fitri 1441 Hijriyah atau 2020 Masehi dlam kondisi pandemi Covid-19 di kabupaten Nunukan yang ditandatangani Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid SE.MM, ketua DPRD Hj.Rahma Leppa Hafid, Kapolres Nunukan AKBP,Syaiful Anwar SIK, Dandim 0911 Nunukan Letkol.Czi Eko Pur Indrianto SE.MI.POL.M.Tr.Han, Danlanal Nunukan Letkol Laut (P) Anton Pratomo SE.M.Tr.Hanla, Dansatgas Pamtas RI-Malaysia Yonif 623/Bhakti Wira Utama Letkol.Inf.Yordania S.I.P.M.Si, Kepala Kejaksaan Negeri Nunukan Fitri Zulfahmi SH.MH, Ketua Pengadilan Agama Nunukan Drs.Fuadi.
 
‘’Kebijakan ini menimbang situasi Nunukan yang masuk zona merah dengan kondisi transmisi lokal dimana masih ada penambahan kasus corona meski diimbangi dengan sekitar 18 eks pasien Corona yang dinyatakan sembuh.’’ujar Juru bicara pemkab Nunukan Hasan Basri Mursali, Selasa (19/05/2020).
 
Ada 10 poin kesepakatan bersama yang harus menjadi perhatian dipedomani, masing masing,
 
1.Ummat Islam dan ummat lainnya di kabupaten Nunukan wajib mendukung dan mentaati kebijakan pemerintah dalam percepatan penanganan dan penanggulangan Covid-19.
 
2. Mengajak ummat Islam di kabupaten Nunukan agar semakin mendekatkan diri kepada Alloh dengan memperbanyak ibadah, taubat, Istighfar, dzikir, membaca qunut nazilah, memperbanyak sholawat, memperbanyak sedekah, amar ma’ruf nahi munkar dan senantiasa, berdoa kepada Alloh agar diberikan perlindungan dan dihindarkan dari wabah Covid-19.
 
3. Setiap orang wajib melakukan ikhtiar, menjaga kesehatan dan melakukan physical distancing (menjaga jarak fisik dengan orang lain) dan sosial distancing.
 
4. Mengajak ummat Islam di kabupaten Nunukan untuk tetap berada di tempat atau di daerah masing masing dan tidak melakukan perjalanan keluar daerah (mudik) kecuali keadaan normal kembali atau dalam kondisi darurat.
 
5. Mengajak ummat Islam di Kabupaten Nunukan untuk tetap tenang dan tidak panik, serta tidak memborong atau menimbun bahan kebutuhan pokok dan masker serta tidak menyebarkan informasi hoax berkaitan dengan Covid-19.
 
6. Tidak melakukan takbir keliling.
 
7. Melaksanakan sholat Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijiyah atau 2020 Masehi di kediaman masing masing bersama keluarga inti dan tidak dilaksanakan di masjid/mushola atau di tanah lapang yang akan memicu berkumpulnya banyak orang.
 
8. Kegiatan Silaturahmi halal bi halal hari raya Idul Fitri agar dilaksanakan secara daring (online).
 
9. Tidak melaksanakan Open House di hari raya Idul Fitri.
 
10. Menyambut hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah dengan rasa syukur dan suka cita seraya memperbanyak Takbir, Tahmid, dan Tasbih serta berdoa untuk keselamatan diri, keluarga serta warga kabupaten Nunukan khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
 
Dikonfirmasi terkait membludaknya penumpang kapal Ferry KM.Manta juru bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid -19 Nunukan Aris Suyono mengatakan, Sejak zona merah dan transmisi lokal, untuk tindakan skreening difokuskan ke pintu masuk yang ada pelaku perjalanan dari luar nunukan. 
 
‘’Dengan keterbatasan petugas kesehatan di puskesmas fokusnya sudah bergeser ke surveilans aktif di masing masing wilayah kerjanya dan juga kegiatan Pankesia untuk perlindungan Lansia dan kelompok beresiko.’’jawabnya.
 
Data sepanjang pelaksanaan skreening di Liang Bunyu Sebatik, TGC sama sekali tidak mendapatkan ODP maupun PDP karena memang pelaku perjalanan hanya pulang pergi warga Nunukan atau Sebatik, tidak ada yang dari luar Nunukan, 
 
‘’Tentunya itu jadi evaluasi, permasalahan tinggal ada di ketaatan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan.’’lanjutnya.
 
Ditanya lebih jauh terkait implementasi seruan bersama tentang pedoman pelaksanaan perayaan idul fitri 1441 Hijriyah atau 2020 Masehi dalam kondisi pandemi Covid-19 di kabupaten Nunukan, bagaimana realisasi di lapangan dan adakah petugas yang ditugaskan untuk diterjunkan di lapangan, Aris belum mau memberikan komentar.
 
‘’Sementara tidak ada komentar,’’katanya.(Dzulviqor)