Saling Lapor Sebagai Korban Kasus Tawuran, Polisi Justru Menetapkan Kedua Pelapor Sebagai Tersangka

Saling Lapor Sebagai Korban Kasus Tawuran, Polisi Justru Menetapkan Kedua Pelapor Sebagai Tersangka
Kapolsek Nunukan Kota Iptu.Ridwan Supangat

Nunukan – Berawal dari saling melapor dan sama sama memposisikan diri sebagai korban tawuran antar kelompok remaja putri di Nunukan, kedua remaja putri bernama EF (17) dan NSDK (18) justru ditetapkan sebagai Tersangka.


‘’Kami tetapkan keduanya sebagai tersangka. Kita masih lakukan Berita Acara Pidana (BAP) terhadap keduanya. Kita melengkapi administrasi dan kelengkapan berkas sebelum kami limpahkan ke Kejaksaan,’’ujar Kapolsek Nunukan Kota Iptu.Ridwan Supangat, Rabu (20/10/2021).


EF dan NSDK, sama sama bersikeras dengan keterangan mereka di hadapan penyidik Polsek Nunukan Kota.


Keduanya sama sama keukeuh dengan cerita dan pengakuan mereka saat melapor, ada yang mengaku dikeroyok, dan ada yang memberi keterangan perkelahian tersebut terjadi satu lawan satu.


‘’Polisi hanya mencatat saja seluruh keterangan mereka. Masing masing punya cerita versi sendiri, kami tidak bisa mengarahkan atau memaksa mereka mengaku lain lain. Nanti konfrontasinya, dipertemukan ceritanya di depan pengadilan,’’lanjut Supangat.


Kedua belah pihak juga tidak bisa didamaikan. Sejauh ini, Polisi sudah berupaya melakukan 3 kali pertemuan untuk mediasi dan semuanya kandas tanpa ada titik temu.


Antara pihak satu dengan lain seakan sudah siap fight/adu kuat karena masing masing sudah menyiapkan Pengacara dalam kasus tersebut.


‘’Saat ini kita sudah mengirim pemberitahuan ke Kejaksaan Negeri Nunukan. kasusnya lanjut ke meja hijau, dan sementara ini Polisi masih proses BAP untuk kelengkapan administrasi sebelum diserahkan ke Jaksa. Sebenarnya semua tahu kejadiannya, tapi karena keterangan mereka dipengaruhi oleh kepentingan untuk memenangkan kasusnya, ya biar pengadilan yang memutuskan,’’tambahnya.


Meski keduanya ditetapkan sebagai tersangka, Polisi tidak melakukan penahanan.


Supangat menjelaskan, Polisi memiliki pertimbangan sendiri dalam masalah ini. Keduanya tentu tidak akan melarikan diri atau bisa menghilangkan barang bukti.


Keduanya juga memiliki penjamin yang kuat untuk kooperatif selama proses hukum berjalan.


‘’Jadi ini lebih pada kebijakan kita, karena mereka juga masih remaja tentu kalau ditahan akan jadi masalah lain lagi nantinya,’’jelasnya.


Kasus yang bisa dikategorikan sebagai kenakalan remaja yang bergulir sampai meja hijau inipun cukup disayangkan oleh Supangat.


Tentunya keduanya yang sama sama korban, juga saling menyadari menjadi pihak yang paling menderita dan dirugikan dalam peristiwa ini.


Sudah barang pasti, akibat peristiwa itu, mereka telah menderita baik secara fisik, psikis dan sosial akibat luka, trauma, dan pemberitaan yang luas perihal pengeroyokan yang dialaminya. Padahal seharusnya kasus anak seperti ini memiliki karakteristik yang tertutup.


‘’Di Polsek mungkin selesai sampai penetapan Tersangka ya, kalau ditanya pasal ya paling selain pasal pengeroyokan kita sisipkan juga undang undang perlindungan anak. Kasusnya masih dalam tahap melengkapi berkas dan segera kita limpahkan ke Kejaksaan,’’tutupnya.

Sebelumnya, terjadi perkelahian antar kelompok remaja putri akibat unggahan dengan nada hinaan di media social.


Peristiwa tersebut terjadi di sekitar Jalan Lingkar Nunukan Selatan, pada Rabu 22 September 2021 sekitar pukul 21.00 wita.


Akibat dari tawuran tersebut, kedua kubu saling lapor ke polisi dan sama sama memposisikan diri sebagai korban. Pihak yang bertikai EF (17) dan NSDK (18), sama sama berstatus pelajar SMA di Nunukan. 


Terlihat keduanya sama sama terluka seperti cakaran bekas kuku dan semacam goresan aspal layaknya jatuh dari sepeda motor, di bagian wajah dan beberapa bagian tubuh lain.


Dalam pemeriksaan Polisi, mereka mengakui jika masing masing membawa sejumlah orang untuk perkelahian tersebut. 


Kapolsek Nunukan Kota Iptu.Ridwan Supangat mengatakan, masalah perselisihan kedua remaja tersebut sudah pernah terjadi dulu, tapi tidak sampai berujung pada kekerasan. 


‘’Kali ini, masalah meruncing ketika ada anggota dari salah satu kubu menyeberang masuk ke kubu lawan dan menjadi provokator. Kita sudah amankan semuanya dan kita masih meminta keterangan," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (23/9/2021) lalu.


Dalam perkara ini, Polisi sudah membuka ruang mediasi sejak laporan dugaan penganiayaan dan pengeroyokan masuk Rabu (22/9/2021) siang. 


Hanya saja, mediasi tersebut buntu karena kedua kubu bersikeras tidak mau damai dan sepakat melanjutkan prosesnya sampai ke meja hijau.(02)