58 Anak PMI Malaysia Terima Beasiswa Repatriasi

58 Anak PMI Malaysia  Terima Beasiswa Repatriasi

NUNUKAN – Acting Konsulat RI di Tawau Malaysia Iskandar Abdullah memimpin pelepasan anak anak Pekerja Migrant Indonesia (PMI), untuk program beasiswa repatriasi 2020. 


Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KRI Tawau Emir Faisal mengatakan, rombongan pelajar diberangkatkan dari pelabuhan Tawau menggunakan KM. Francis Express menuju Nunukan Kalimantan Utara, Rabu (23/12/2020).


Proses pemberangkatan mengacu pada SOP protocol kesehatan ketat, seperti penerapan aturan jaga jarak, pemakaian masker wajah, dan pemakaian hand sanitizer.


‘’Sebelum diberangkatkan, seluruh peserta repatriasi ini menjalani rapid test antigen di salah satu klinik swasta yang ada di Tawau dan semuanya menunjukan hasil negatif.’’ujarnya, Kamis (24/12/2020).


Emir menjelaskan, Ada 58 pelajar alumni Community Learning Center (CLC) Sabah yang akan melanjutkan sekolah di Nunukan. 


Rombongan ini merupakan tahap pertama yang diberangkatkan, dari 603 pelajar penerima paket beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM), tahun 2020. 


Sedangkan sisanya akan menyusul dalam waktu dekat karena masih menunggu selesainya pengurusan dokumen-dokumen keimigrasian yang diperlukan. 


Emir melanjutkan, untuk tahap pertama, mereka akan di tempatkan di beberapa sekolah yang ada di Nunukan Kalimantan Utara antara lain : SMKN 1 Sebatik Barat sebanyak 29 pelajar, SMKS Mutiara Bangsa sebanyak 13 pelajar, SMA Santo Gabriel sebanyak 11 pelajar dan SMKN 1 Nunukan sebanyak 5 pelajar. 


Sedangkan untuk tahap selanjutnya akan ditempatkan di sekolah mitra selain Kalimantan Utara yakni di Kalimantan Selatan, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Lombok, Banten, dan Lampung. 


‘’Program repatriasi ini merupakan kegiatan tahunan hasil kerjasama pihak Kemdikbud RI dengan Perwakilan RI (KRI Tawau dan KJRI Kota Kinabalu), Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) beserta Yayasan Sabah Bridge (SB) sebagai inisiator.’’lanjutnya.

KRI dan Kementrian Luar Negeri juga memastikan kelancaran program ini dengan berkerja sama dengan Sekretariat Kerajaan Negeri Sabah, Majelis Keselamatan Negara wilayah Sabah, Imigresen, Kastam, PDRM, dan Pengelola Pelabuhan.


Emir menegaskan, jalur pendidikan, saat ini menjadi salah satu alternatif yang memungkinkan anak-anak PMI yang kebanyakan lahir, besar dan tinggal bersama orang tua mereka di perkebunan kelapa sawit di Sabah, agar dapat kembali ke tanah air secara legal, demi melanjutkan pendidikannya di Indonesia. 


‘’Harapannya dengan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, mereka akan dapat meraih masa depan yang lebih baik sehingga dapat mengangkat derajat kehidupan keluarga dan dapat memutus rantai kemiskinan.’’katanya. 


Selain itu, melalui program repatriasi di bidang pendidikan, turut mengurangi jumlah pekerja ilegal di luar negeri khususnya di Malaysia, yang selama ini menjadi concern Pemerintah untuk segera diselesaikan.

 

Menempati asrama khusus

Kepala Sekolah SMKN 1 Nunukan Mahfuz, mengatakan, pelajar repatriasi yang masuk ke sekolahnya adalah mereka yang sudah melakukan pendaftaran di tahun ajaran baru sebelumnya.


Mereka ditempatkan di asrama khusus pelajar repatriasi tanpa dipungut biaya. Setiap sekolah yang menjadi tujuan pelajar repatriasi dari Malaysia ada gedung asrama khusus.


‘’Memang itu bentuk perhatian pemerintah RI terhadap pendidikan anak anak PMI, dan kita beri mereka perhatian khusus juga, karena kurikulum mereka sedikit berbeda dengan Indonesia,’’katanya.(Dzulviqor)