Antara Kasus Balita Covid-19 di Nunukan Nasib Tenaga Medis dan Transmisi Lokal

Antara Kasus Balita Covid-19  di Nunukan Nasib Tenaga Medis dan Transmisi Lokal
Juru Bicara TGC Nunukan Aris Suyono
 
Nunukan – Kasus Balita berusia 2 tahun di Nunukan Kalimantan Utara terus menjadi sorotan karena sampai hari ini Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (TGC) Nunukan belum bisa menemukan sumber penularan apalagi si balita berjenis kelamin perempuan ini sama sekali tak memiliki riwayat bepergian keluar pulau Nunukan.
 
Langkah tracing terhadap kontak erat dan tenaga medis yang berinteraksi dengan pasien Covid-19 tentu harus dilakukan, apakah langkah ini sudah terlaksana?
 
Menurut juru bicara TGC Nunukan Aris Suyono, ada sekitar 20 tenaga medis dan paramedic yang merupakan hasil tracing dan telah diberlakukan rapid test, hasilnya semua negative, tak satupun hasil rapid menunjukkan positif.
 
“Berdasar amandemen sebagaimana protocol penanganan corona dari Permenkes RI pada revisi ke-IV, tenaga medis yang menggunakan APD standar saat melayani pasien covid-19 tak masuk kriteria kontak erat, maka kami keluarkan mereka dari kontak erat tapi untuk antisipasi tetap kami rapid, dan semua negative,’’ujarnya, Kamis, (30/04/2020).
 
Demikian juga terhadap kontak erat pasien, baik keluarga dan tetangga, ada sekitar 15 orang yang di rapid stik dan semua juga negative, termasuk 5 tenaga perawat di Puskesmas Nunukan kota. Sementara itu sampai hari ini TGC Nunukan belum menerima hasil rapid test sejumlah tenaga medis RSUD Nunukan yang pernah berinteraksi langsung dengan si Balita.
 
Nunukan masuk kriteria zona merah dengan status transmisi local.
 
TGC kemudian menyimpulkan adanya transmisi local, ini kemudian ditetapkan Menteri kesehatan RI yang memasukkan Nunukan sebagai area Transmisi Lokal bersama dengan kabupaten lain di Kalimantan utara masing masing Malinau, Bulungan dan kota Tarakan.
 
Ketika ada penentuan wilayah transmisi local, tentu terjadi penularan tak terkendali, dimana secara otomatis Nunukan juga masuk kriteria zona merah, butuh perlakuan ekstra dengan formulasi penanganan khusus untuk mengatasi persoalan ini apalagi Nunukan tak memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) meski Nunukan masuk zona merah dengan status Transmisi local.
 
‘’Kita tidak ada rencana ke arah PSBB,’’kata Aris menegaskan.
 
Untuk masalah PSBB sebagaimana kata Aris, butuh sejumlah kriteria, selain sekedar transmisi local, antara lain, kurva epidemologi yang meningkat ditunjukkan dengan sebaran kasus yang merata di semua kecamatan, ada kasus kematian, dan pertimbangan aspek kebutuhan dasar mulai dari sector pendidikan, sector kesehatan dan dampak ekonomi.
 
Sejauh ini, untuk kasus Covid-19 Nunukan, jika melihat statistic berdasar golongan usia, ada 17,14 persen kasus anak dengan rentang usia 0 – 16 tahun atau sebanyak 6 kasus. Rentang usia remaja antara 15 – 24 tahun ada 2 kasus atau 2 persen, rentang usia 25 – 44 tahun tercatat 15 kasus dengan prosentase 42 persen, rentang usia 45 – 59 tahun ada 9 kasus atau sebanyak 25 persen, dan rentang usia yang perlu perhatian ekstra adalah usia diatas 60 tahun/Lansia dengan  jumlah 3 kasus.
 
Perkembangan terbaru kasus Covid-19 Nunukan per 30 April 2020 pukul 12.00 wita, tercatat kasus Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 17, Orang Tanpa Gejala (OTG) sebanyak 74, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 1 orang dan kasus konfirmasi sebanyak 35 orang.
 
TGC Nunukan juga menerima notifikasi hasil swab dari Balai Besar Laboratorium dan Kesehatan (BBLK) Surabaya, hasil dari sample 4 pasien konfirmasi pertama masih positif yang artinya mereka belum sembuh dari corona, petugas akan kembai melakukan evaluasi dan mengambil ulang sample swab untuk konfirmasi ulang, sementara 3 sample lain yang diterima juga menunjukkan negative, 3 sample tersebut terdiri dari 2 pasien umum yang dirawat di RSUD Nunukan dan 1 tenaga medis.(007)