Banjir Tahunan ‘’Kiriman Malaysia’’, Pemkab Nunukan Sering Suarakan di Sosek Malindo

Banjir Tahunan ‘’Kiriman Malaysia’’, Pemkab Nunukan Sering Suarakan di Sosek Malindo
Pasca banjir, masyarakat dan Petugas BPBD bersihkan lumpur di sejumlah fasilitas umum masyarakat

Nunukan – Banjir tahunan yang melanda 5 Kecamatan di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara, butuh perhatian serius dari Pemerintah RI.


Banjir di wilayah pelosok perbatasan RI – Malaysia ini, berasal dari Sungai Talangkai di Sepulut Sabah Malaysia. 


Banjir kemudian mengalir ke sungai Pampangon, berlanjut ke sungai Lagongon ke Pagalungan, masih wilayah Malaysia. 


Dari Pagalungan, aliran sungai kemudian memasuki wilayah Indonesia melalui sungai Labang, sungai Pensiangan dan sungai Sembakung.


Banjir kemudian menggenangi Kecamatan Lumbis Ogong, Lumbis Pensiangan, Lumbis Hulu dan Lumbis, lalu mengalir ke Kecamatan Sembakung.


‘’Kami sudah sering suarakan masalah banjir di perbatasan RI – Malaysia ini dalam Forum Sosek Malindo (Sosial Ekonomi Malaysia Indonesia). Kami optimis ini akan menjadi agenda khusus yang dibahas dalam Soseknas,’’ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Nunukan, Muhammad Amin, dihubungi, Jumat (14/01/2022).


Selama ini, kata Amin, Pemerintah Daerah rutin membuat laporan dampak banjir dan rencana jangka untuk penanggulangannya. Laporan tersebut selalu diteruskan ke Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat.


Pemerintah Daerah juga kerap mengajukan proposal untuk rencana penanggulangan banjir dalam bentuk proyek pembangunan siring penahan longsor, dan meminta petunjuk dari sejumlah instansi Negara seperti BNPB, juga sejumlah Kementrian terkait.


‘’Terakhir kami menerima bantuan APBN untuk penanggulangan banjir di wilayah langganan banjir sekitar 2016/2017, saat itu turun anggaran Rp 18 miliar untuk pembangunan siring penangan longsor di beberapa titik rawan. Setelah itu tidak ada lagi,’’ujar Amin lagi.


Pemerintah Daerah terus berupaya melakukan pencegahan dan meminimalisir resiko dengan membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana), menyiapkan relawan banjir di masing masing Kecamatan terdampak, membangun gudang logistic, serta merencanakan pembangunan posko posko bencana di masing masing Kecamatan.


Selama ini, Posko penanganan banjir dipusatkan di Kecamatan Sebuku. Segala informasi, pemetaan dan mitigasi bencana dilakukan di posko tersebut.


‘’Sebenarnya pemerintah pusat harus melihat ini dengan lebih serius, karena ini bukan persoalan yang bisa diselesaikan Pemerintah Daerah atau Provinsi. Ini melibatkan dua Negara dan hanya bisa diselesaikan di tingkat pusat,’’lanjutnya.


Amin memiliki optimisme tinggi pasca kedatangan Menteri Sosial Tri Rismaharini di lokasi banjir di Kecamatan Sembakung pada Minggu (9/1/2022) lalu.


Kedatangan salah satu pejabat Negara tersebut, diharap membawa permasalahan menahun ini ke meja presiden dan segera ada kejelasan akan penanggulangan banjir di perbatasan RI – Malaysia ini.


‘’Kita berharap, kedatangan Mensos akan mempressure permasalahan yang sudah lama belum ada solusi ini,’’kata Amin. 


Saat ini, banjir sudah mulai surut. Banjir yang terjadi sejak 4 Januari 2022 ini, menjadi salah satu peristiwa banjir dengan daya rusak tinggi. 


BPBD Nunukan mencatat sebanyak 79 desa, 3.179 unit rumah, 3.753 KK dan 10.887 jiwa terdampak.


Jumlah ini jauh lebih besar ketimbang awal 2021, saat itu, banjir kiriman dari Malaysia ini merendam Desa Butas Bagu, Desa Labuk, Desa Pagar, Desa Tujung, Desa Manuk Bungkul, Desa Atap, Desa Lubakan dan Desa Tagul. 


Ketinggian banjir mencapai 2,1 meter hingga 4 meter. Tercatat sebanyak 948 rumah dengan 1.552 KK dan 5.682 jiwa terdampak.(02)