BP2MI Nunukan Amankan 16 WNI Asal Sulawesi yang Hendak Menyeberang ke Malaysia

BP2MI Nunukan Amankan 16 WNI Asal Sulawesi yang Hendak Menyeberang ke Malaysia

Nunukan – Sebanyak 16 WNI asal Sulawesi Selatan diamankan dalam operasi pencegahan PMI illegal yang dilakukan Badan Perlindungan dan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) bersama Unit Reskrim Polres Nunukan, Selasa (11/01/2022).


16 orang yang terdiri dari 7 laki laki dewasa, 7 perempuan dewasa, 1 anak laki laki dan 1 anak perempuan tersebut, merupakan dua rombongan yang berasal dari Kota Sinjai dan Kota Bulukumba Sulawesi Selatan.


Kepala Unit Pelaksana Teknis Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (UPT BP2MI) Nunukan, AKBP F. Jaya Ginting mengatakan, 16 WNI tersebut, diamankan di pelabuhan tradisional Haji Putri pada sekitar pukul 05.00 wita, saat menunggu speed boat yang akan membawa mereka menyeberang ke Tawau – Malaysia.


‘’Semuanya kami tempatkan di rumah penampungan BP2MI Nunukan. dan kami amankan dua orang diduga sebagai calo, mereka adalah bapak dan anak, bernama H dan MF,’’ ujarnya, Rabu (12/01/2022).


Dalam interview yang dilakukan, para WNI membayar dengan jumlah bervariasi, sesuai kesepakatan dari kedua orang ayah dan anak yang diduga calo/pengurus tersebut.


Ginting menegaskan, diamankannya 2 orang calo tersebut, sekaligus menjadi edukasi bagi para warga Nunukan dengan profesi yang sama.


Lebih baik mencari pekerjaan lain, dari pada mengambil uang dari saudara sebangsa demi menyeberangkan mereka secara unprosedural.


Di Malaysia, dengan status mereka yang unprosedural, para WNI akan menjadi buruan dan harus selalu lari ke hutan menyelamatkan diri mereka.


Ginting mengatakan, calo memiliki andil atas nasib kesengsaraan mereka dan apa yang dilakukan calo itu tidak benar.


‘’Saat ini, kedua terduga calo PMI sedang diperiksa Polres Nunukan. Kita selalu konsen ke pencegahan keberangkatan PMI illegal, karena kita tidak ingin nasib mereka akan menjadi deportan. Diusir tanpa membawa apapun padahal sudah bekerja sekian lama,’’ kata Ginting lagi.


Salah satu PMI yang diamankan di rumah penampungan BP2MI, Rohe (48) mengakui, mereka tidak memiliki dokumen keimigrasian atau identitas kewarga negaraan.


Saat ditangkap aparat, Rohe membawa serta istrinya Hartini (45) dan kelima anaknya.


‘’Kami lewat secara illegal karena tidak punya dokumen. Kemarin kami sekeluarga pulang kampung awal tahun 2022, kebetulan ada keluarga menikah,’’ katanya.


Rohe menuturkan, ia sudah bekerja di Malaysia sejak 1987. Di daerah Semporna, ia bekerja di ladang sawit milik warga tempatan dengan system bagi hasil.


Di Malaysia pula ia bertemu dengan jodohnya, dan menikah tahun 1992. Rohe mengaku terakhir kali ke Indonesia pada tahun 2012. Dan kali ini pertama kalinya ia kembali menginjakkan kaki di tanah air sebelum akhirnya diamankan petugas.


‘’Kami sudah bayar Rp.3,2 juta ke tukang perahu. Kami terkejut saat ditangkap karena ini baru terjadi karena sudah lebih sepuluh tahun saya tidak pulang kampung,’’ akunya.


Sebagai PMI illegal, Rohe tidak membantah bahwa keluarganya sering lari ke hutan demi menghindari kejaran aparat Malaysia.


Statusnya juga membuat kelima anaknya tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Anak pertamanya usia 28 tahun sampai anak bungsunya yang berusia 15 tahun hanya belajar membaca secara otodidak melalui Hp.


Meski demikian, ia tidak pernah berfikiran menetap di Indonesia karena sejak muda ia bekerja di kebun sawit, ia merasa kehidupannya berada di Malaysia.


‘’Tapi kali ini setelah ditangkap, saya memutuskan tidak kembali ke Malaysia. kami akan balik kampung saja dan bekerja apa saja di kampung nanti,’’ katanya.(02)