Cerita Sujinah, Pengrajin Sesingal Pertama di Nunukan Dengan Omset Rata Rata Rp 12 Juta Sebulan

Cerita Sujinah, Pengrajin Sesingal Pertama di Nunukan Dengan Omset Rata Rata Rp 12 Juta Sebulan
Penrajin Sesingal, Sujinah

Nunukan – Sujinah, penrajin Sesingal dari Desa Binusan Nunukan Kalimantan Utara tidak pernah menyangka Singal buatanya banyak diminati.


Padahal, niat awalnya hanya ingin membuatkan Sesingal atau ikat kepala khas suku Tidung, bagi suami dan anaknya untuk perayaan Iraw yang merupakan acara adat.


Didatangi di rumahnya di Jalan Aji Muda, Desa Binusan, NunukanSujinah terlihat serius menjahit Sesingal di mesin jahit miliknya.


‘’Ceritanya di November 2021 itu kan ada acara Iraw di Nunukan. Suami dan anak ingin sekali pakai Sesingal, sudah pesan lama sekali datangnya, akhirnya dia minta saya coba buat. Kebetulan saya kerja menjahit bertahun tahun,’’ujar Sujinah, Minggu (20/02/2022).


Untuk membuat suami dan anaknya senang, Sujinah lalu belajar membuat Singal. Ia menggunakan kertas kalender dan memanfaatkan kain kain sisa jahitan miliknya.


Ia meminjam Singal milik temannya dan terus mencoba menjahit meski bongkar pasang demi menghasilkan Sesingal berkualitas.


‘’Saya dua hari belajarnya. Meski saya penjahit, Singal kan sama sekali baru buat saya. Jadi sempat bongkar jahitan beberapa kali sampai dapat hasil yang menurut saya sudah bagus,’’katanya.


Begitu dua buah Singal sudah jadi, suami dan anaknya lalu memakainya untuk menghadiri Iraw Tidung Borneo bersatu pada November 2021 lalu.


Saat itu, suku Tidung dari Malaysia, Brunei dan Filipina, ikut hadir dan meramaikan pesta adat tersebut.


Tak disangka, Sesingal yang keduanya pakai, menarik minat para tetua adat. Mereka akhirnya memesan Sesingal dari Sujinah. Selain untuk sendiri, juga untuk dihadiahkan bagi para tamu dari Negara lain.


‘’Begitu ada beberapa ketua adat pesan, banyak juga yang mau. Waktu itu saya sampai membuat ratusan buah Singal dan memutuskan menjadi perajin sekalian. Saya tidak menyangka niat membuatkan suami dan anak, justru jadi peluang usaha di masa pandemic saat pekerjaan sedang susah,’’lanjutnya.


Sejak pandemic covid-19 melanda, Sujinah bersama suami dan anak, focus untuk pemesanan Sesingal. Pelanggannya bukan hanya di Nunukan, tapi sampai di Tarakan, Bulungan bahkan Malaysia.


Rata rata, dalam sebulan, Sujinah menghabiskan 3 rol bahan kain songket India. Kain tersebut terbilang mewah saat menjadi Singal dan banyak diminati.


Dalam 1 rol kain, 27 buah Singal dihasilkan. Jika per Singal dihargai Rp.150.000, maka omset Sujinah dalam sebulan sekitar Rp.12.150.000.


‘’Tergantung pesanan, kalau lagi banyak, bisa lebih. Tapi memang rata rata sebulan biasanya habis tiga roll kain songket India,’’katanya.


Sujinah juga melayani permintaan pembuatan Singal dengan bahan apa saja.


Beberapa waktu lalu, Dinas Pariwisata Nunukan juga sempat memintanya untuk membuatkan Singal dengan bahan batik tulis etniek persatuan dayak Lulantatibu (Lundayeh, Tagalan, Tahol, Tidung dan Bulungan). 


Sujinah berharap, meski usaha ini masih skala kecil, ia bisa memiliki andil dalam melestarikan budaya suku Tidung.


Singal atau Sesingal, selalu menjadi lambang kebesaran khas Tidung, dimana ungkapan “Utok no benawod de Sesingal” yang berarti “apapun kegiatan laki-laki suku Tidung, kepalanya harus selalu diikat dengan sesingal”, masih dijunjung tinggi.


‘’Kami masih bisnis kecil kecilan. Untuk mengurus izin usaha segala macam belum ada. Ini usaha dadakan dan muncul begitu saja di saat pandemic dan saat kami kebingungan pekerjaan,’’imbuhnya.(02)