Gadis Pelayan Cafe Ditikam Pisau Cutter Karena Disangka Pelakor

Gadis Pelayan Cafe Ditikam Pisau Cutter Karena Disangka Pelakor
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Nunukan, Bonar Satrio Wicaksono.
Nunukan – Seorang gadis pelayan café di desa Apas Kecamatan Sebuku Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara, berinisial R (20) menerima tusukan pisau cutter dari seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) berinisial SWH (33) warga Desa Makmur Kecamatan Tulin Onsoi.
 
Peristiwa yang terjadi pada 3 Oktober 2021 tersebut telah bergulir di persidangan, dan telah vonis. Pelaku divonis 4 bulan penjara dalam Sidang yang digelar secara virtual, Rabu (05/01/2021).
 
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Nunukan, Bonar Satrio Wicaksono mengatakan, kasus penganiayaan ini, didasari akibat tuduhan Pelakor (Perebut Laki Orang) kepada korban. 
 
Anggapan tersebut kian menguat manakala K yang merupakan suami pelaku, tidak pulang selama dua hari pasca cekcok.
 
‘’Sebelumnya memang terjadi cekcok akibat suami pelaku/terdakwa sering kirim chat messenger ke korban yang merupakan pelayan café. Suami terdakwa merupakan pelanggan café tempat korban bekerja,’’ujar Bonar, Kamis (06/01/2021).
 
Tidak ada bukti yang menguatkan tudingan Pelakor terhadap korban. Dalam persidangan, terungkap bahwasanya korban yang statusnya masih gadis ini, bahkan lebih sering mengabaikan dan tidak melayani chat messenger yang dikirim oleh suami terdakwa.
 
Hanya saja, emosi terdakwa meledak setelah sempat ribut dengan suaminya akibat messenger yang sering dikirim K kepada R. 
 
SWH kemudian berinisiatif mendatangi café tempat korban bekerja, dan memberi peringatan kepada R agar tak mengganggu rumah tangganya.
 
‘’Waktu dia datang ke café, sebenarnya posisi suaminya ada di dalam café. Tapi karena tahu istrinya datang, si suami kabur. Bertanyalah terdakwa kepada korban ‘’dimana suamiku’’. Korban menjawab tidak ada, sehingga terdakwa langsung menusuk perut bagian kiri korban dengan pisau cutter,’’jelasnya.
 
Beruntung, luka akibat tusukan tidak terlalu dalam. Saat itu, korban hanya menuntut kata maaf dari terdakwa. 
 
Sayangnya, terdakwa saat itu tidak mau meminta maaf, sehingga korban memilih melaporkan kasus penganiayaan yang dialamianya ke Polisi.
 
‘’Terdakwa menjalani penahanan selama dua bulan. Selama itu, bayinya ikut keluarga terdakwa dan berat badannya turun,’’katanya lagi.
 
Bonar menjelaskan, terdakwa dalam kondisi emosional karena masalah rumah tangga, terlebih lagi ia memiliki bayi yang masih menyusu.
 
Dalam sidang yang diketuai Majelis Hakim Bimo Putra Sejati, SWH dinyatakan bersalah dengan melakukan penganiayaan ringan sebagaimana pasal 351 KUHP.
 
‘’Menjatuhkan pidana empat bulan kurungan terhadap terdakwa, dikurangi masa tahanan,’’ujar Bimo.
 
Air mata SWH tak terbendung, setelah mendengar putusan tersebut. Ia sadar perbuatannya mengakibatkan anak bayinya terlantar.
 
SWH sebisa mungkin tegar, lalu meminta maaf kepada korban. Sidang virtual tersebut ditutup dengan adegan dramatis antara pelaku dan korban.
 
Sebagaimana dijelaskan Bonar, ada sejumlah pertimbangan yang mendasari ringannya vonis bagi terdakwa.
 
Antara lain karena pelaku memiliki bayi yang masih membutuhkan ASI. Pertimbangan lain, karena korban penikaman sudah memaafkan.
 
Korban justru dengan tulus memohon agar Hakim memberikan hukuman paling ringan terhadap terdakwa dalam sidang tersebut. 
 
‘’Pertimbangan itu akhirnya membuahkan durasi hukuman empat bulan bagi terdakwa. Keduanya juga sudah berdamai, saling memaafkan, dan terdakwa tinggal menjalani sisa masa tahanannya,’’kata Bonar.(02)