Heboh Dugaan Penyelundupan Kayu Nibung Ke Malaysia, Nelayan dan Pemerintah Segera Duduk Bersama

Heboh Dugaan Penyelundupan Kayu Nibung Ke Malaysia, Nelayan dan Pemerintah Segera Duduk Bersama
Illustrasi

Nunukan – Adanya dugaan penyelundupan kayu nibung secara massif ke Malaysia membuat para nelayan bagan di Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara mempertanyakan legalitas dan respon stake holder.


Keresahan tersebut didasari pada dampak nyata, terjadinya kelangkaan kayu nibung, atau harga nibung yang melonjak naik sehingga nelayan bagan kesulitan memperbaiki konstruksi bagan yang rusak.


Selain itu, harga teri ambalat juga anjlok, karena mulai berdirinya pondok pondok nibung di wilayah Malaysia.


‘’Memang kasus itu (penyelundupan nibung) menjadi perhatian kami. Para nelayan mengeluh, apalagi hasil tangkap dan penghasilan mereka merosot,’’ujar Kepala Desa Tanjung Aru Sebatik, Faisal, dihubungi Minggu (30/01/2022).


Faisal mengatakan, sekitar 50 persen warganya adalah nelayan, termasuk para nelayan yang penghasilannya bergantung dari bagan.


Akhir akhir ini, keluhan penyelundupan kayu nibung kian santer dan dikhawatirkan memicu suasana tak kondusif, sehingga dijadwalkan untuk menggelar rapat bersama sebagai respon atas persoalan ini.


‘’Semua hal berkaitan dengan nibung akan kita bahas. Pemerintah desa memfasilitasi pertemuan antara nelayn bagan, penjual kayu nibung dan disaksikan para Bhabinsa dan Bhaninkamtibmas. Pertemuan digelar Senin besok,’’katanya lagi.


Sebelumnya, keluhan akan dampak penyelundupan kayu nibung juga diteriakkan tokoh masyarakat Sebatik, Andre Pratama.


Legislator DPRD Nunukan ini, bereaksi keras terhadap potensi ancaman ekonomi, yang dia anggap akibat ‘’pembiaran’’ para stake holder. Apalagi hal ini mempengaruhi perekonomian nelayan dan eksistensi komoditas ekspor teri ambalat.


‘’Saya anggap ini pembiaran. Dari Sebaung ke Malaysia itu melewati sejumlah pos aparat keamanan di laut. Mungkinkah ini tidak diketahui?,’’ujarnya Andre.


Dampak langsung yang kini dirasakan nelayan, adalah merosotnya harga teri ambalat sejak memasuki 2022.


Harga teri ambalat kini anjlok di harga Rp.73.500 per Kg atau RM 21, dari harga normal Rp.105.000/kg atau RM 30.


Selain itu, ada sekitar 4 bagan milik nelayan Sebatik, hancur dihantam ombak. Nelayan kesulitan mencari kayu nibung untuk memperbaiki bagian bagan yang rusak.


Andre menegaskan, masifnya penyelundupan kayu nibung butuh sikap tegas aparat keamanan Indonesia.


Terlebih kasus penyelundupan nibung juga menjadi salah satu kasus yang mendapat perhatian aparat Malaysia.


Salah satu contoh kasus adalah penemuan kayu nibung oleh aparat Malaysia 18 Januari 2022.


Sebanyak100 pasang kayu nibung asal Kabupaten Nunukan, diamankan di 0.17 mil laut timur muara sungai Indera Sabah oleh Zona Maritim Tawau.


Kayu senilai 15.000 RM atau setara dengan Rp.52.500.000 tersebut ditemukan Zona Maritim, terbiar di pinggir sungai. Mereka lalu menariknya ke muara sungai Indera Sabah untuk proses hukum.


‘’Saya berharap potensi ancaman ekonomi dan keberlangsungan teri ambalat segera ditindak lanjuti. Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltara harus melihat ini sebagai perkara urgent. Kasihan nasib nelayan di perbatasan,’’kata Andre.


Selama ini, para penjual kayu nibung selalu beralasan akan membawa kayu kayu tersebut untuk nelayan bagan lokal ketika mereka berpapasan dengan aparat di tengah laut.


Begitu aparat berlalu dan mereka sampai perairan perbatasan RI – Malaysia, mereka langsung melipir, dan menyimpan kayu kayu nibung yang ternyata pesanan warga Malaysia tersebut di pinggiran sungai.


‘’Mereka meninggalkan kayu kayu yang telah diikat sesuai jumlah pesanan begitu saja, setelah memberi tahukan koordinat lokasi penyimpanan,’’katanya.


Dari penjelasan para nelayan bagan, para penjual kayu nibung menebang pohon di wilayah Sebaung, dan dijual dengan harga sekitar 15.000 Ringgit Malaysia per pasang, atau sekitar Rp.52.500.000 dalam kurs Rp.3500 per RM 1.


Harga yang cukup tinggi dibanding pasaran lokal yang dibanderol Rp.21 juta atau RM 6.000.

 


Untuk diketahui, satuan jumlah kayu nibung dihitung per pasang, dimana sepasangnya ada 100 batang pohon. 


Jumlah tersebut, adalah batang yang diperlukan untuk membangun 1 pondok bagan.(02)