Kisah TKW Malaysia yang Ditipu Kerjaan Dengan Gaji Tinggi di Malaysia, Rela Bawa Anak yang Berusia Setahun

Kisah TKW Malaysia yang Ditipu Kerjaan Dengan Gaji Tinggi di Malaysia, Rela Bawa Anak yang Berusia Setahun
Tenry Binti Nurung korban penipuan calo TKI

Nunukan - Nasib naas dialami Tenry Binti Nurung (22), dijanjikan pekerjaan layak dengan gaji menggiurkan di Tawau Malaysia, ternyata pekerjaan tersebut tak pernah ia temukan.


Wanita asal Kota Palopo Sulawesi Selatan ini bahkan rela membawa serta anaknya yang saat itu masih berusia setahun demi bekerja sebagai TKW di Malaysia.


‘’Saya masuk Malaysia tahun 2019 bersama suami, ditawari kerja di kebun milik orang China dengan upah 1.500 Ringgit perbulan. Kami berfikir dari pada di kampung kerja serabutan, akhirnya kami nekat mengadu nasib di Malaysia,’’ujarnya, Jumat (22/10/2021).


Kehidupan yang kurang layak selama di kampung juga mendasari niat bekerja di negeri orang tersebut.


Ia membawa bekal Rp 5 juta untuk berangkat. Sebanyak Rp 2 juta dibayarkan sebagai biaya perjalanan dan selebihnya, Rp 3 juta, dipergunakan untuk membeli kebutuhan bayi dan keperluan sehari hari.


‘’Ternyata sampai di Malaysia, pekerjaan yang dijanjikan itu tidak ada. Kami akhirnya menganggur dan suami berusaha mencari kerja sendiri. Status kami illegal karena masuk lewat samping waktu itu,’’lanjut Tenri.


Sadar menjadi korban calo TKI, Tenri bersama suaminya Samsir akhirnya memutuskan bertahan dan mencari uang untuk kembali pulang kampung.


Setelah bertanya kesana kemari untuk mencari kerja, Samsir akhirnya mendapat pekerjaan sebagai tukang sabit rumput di salah satu perkebunan sawit Malaysia.


Meski upahnya tak menentu, namun dengan keuletan dan ketekunan Samsir, dalam sebulan ia mampu menghasilkan sekitar 800 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp 2,5 juta perbulan.


Uang itulah yang sebagian untuk keperluan si kecil, untuk kebutuhan lauk pauk dan disisihkan sedikit demi sedikit untuk pulang ke Indonesia.


‘’Begitu uang sudah terkumpul dan mau pulang, kami tertangkap Polis di Kinabatangan. Kami dibawa ke Depot Imigresen Tawau lebih setengah tahun,’’katanya sedih.


Tenri mengaku sampai saat ini tidak tahu siapa calo TKI yang dulu sempat menawarinya pekerjaan sampai rela meninggalkan kampung halaman.


Ia mengaku sangat menyesal telah percaya begitu saja dengan iming iming gaji besar di Malaysia sampai sampai ia tidak bisa menyaksikan orang tuanya meninggal di kampung halamannya.


‘’Cukup sekali saja begini. ndak mau sudah balik ke Malaysia. baik kerja di kampung saja dan membesarkan anak disana,’’katanya.


Nama Tenri Binti Nurung, masuk dalam daftar deportan yang dipulangkan Malaysia pada Kamis (21/10/2021) sore.


Dalam daftar tersebut, ia tercatat sebagai salah satu korban dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).


Dimintai tanggapan atas kasus ini, Sub-Koordinator Perlindungan dan Penempatan UPT BP2MI Nunukan Arbain mengaku belum mengetahui kasus tersebut.

 

‘’Biasanya kalau ada kasus TPPO ada pemberitahuan khusus dari KRI untuk itu. saat ini kami belum mendapatkan itu, namun kami akan melakukan verifikasi dan pendataan untuk menentukan tindakan yang tepat nantinya,’’jelasnya.


Jika memang terbukti ada dugaan TPPO, BP2MI akan menyerahkan persoalan tersebut ke Polisi untuk menelusuri lebih lanjut.


Kendala yang biasa terjadi dalam dugaan tidan pidana TPPO adalah tempo waktu yang sudah cukup lama dan kurang fahamnya korban terhadap kasus yang dihadapi.


‘’Kami akan lakukan pendataan. Kalau memang ada TPPO tentu kami tidak diam. Kita bisa koordinasi dengan petugas BP2MI di wilayah korban untuk melakukan penelusuran bersama Polisi nantinya,’’tegasnya.


Pemerintah Malaysia melakukan deportasi bagi 193 Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui pelabuhan Tunon Taka Nunukan, Kamis (21/10/2021).


Jumlah ini berkurang dari yang seharusnya dipulangkan sebanyak 197 orang. Sebagaimana dijelaskan Arbain, sebanyak 3 orang terkonfirmasi positif covid-19 dan 1 orang belum melengkapi dokumen untuk pemulangan PMI.


‘’Ini akan berlanjut sampai Desember 2021, hasil meeting zoom kami bersama stake holder terkait, akhir Oktober atau awal November 2021, akan ada lagi pemulangan dari Kota Kinabalu Sebanyak 354 orang,’’kata Arbain.(02)