Mengenal Embung Lapri, Sumber Air PDAM Untuk Melayani Kebutuhan Air Bersih PLBN Sebatik

Mengenal Embung Lapri, Sumber Air PDAM Untuk Melayani Kebutuhan Air Bersih PLBN Sebatik
Embumg Lapri di Kecamatan Sebatik, Nunukan Kalimantan Utara

Nunukan – Kepala Bagian Tekhnik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Nunukan Kalimantan Utara, Sulianto memastikan kebutuhan air bersih untuk Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Pulau Sebatik tercukupi.


‘’Kita sudah seratus persen siap untuk memenuhi kebutuhan air bersih PLBN Sebatik. Embung Lapri mencukupi untuk persoalan air bersih saat PLBN beroperasi,’’ujar Kepala Bagian Tekhnik PDAM Nunukan, Sulianto, Minggu (27/02/2022).


Ia menuturkan, Embung Lapri di Pulau Sebatik dibangun tahun 2015, diatas lahan dengan luasan sekitar 55 hektar.


Embung Lapri dirancang dengan debit air 500.000 kubik dengan daya produksi 50 liter perdetiknya.


Sementara ini, Embung Lapri melayani kebutuhan air bersih untuk warga masyarakat di 3 Kecamatan, masing masing 1.551 pelanggan di Kecamatan Sebatik Utara, 832 pelanggan di Kecamatan Sebatik Timur dan sekitar 700 pelanggan di Kecamatan Sebatik Tengah.


‘’Jadi kalau bicara kebutuhan air bersih untuk PLBN Sebatik, pertamanya saja yang berat. Untuk pengisian ground tank pertama, kita perkirakan sekitar 300 meter kubik, setelah itu tidak jauh beda dengan perkantoran dengan kebutuhan air tidak sampai lima kubik sehari. Sementara produksi kami selama 18 jam sekitar 2.200 liter, masih mampulah,’’jelasnya.


Meski Pulau Sebatik merupakan wilayah tanpa sumber air representative, sejumlah aliran sungai kecil dan tidak adanya musim di Kabupaten Nunukan, meyakinkan PDAM Nunukan atas optimisme tersebut.


Sejauh ini, PDAM Nunukan sudah melakukan pemasangan Jalur Distribusi Utama (JDU), dari Embung Lapri ke PLBN Sebatik, melewati perkebunan dengan jarak sekitar 3 Km.


Pemasangan dilakukan dengan menghindari bukit yang terdapat monument Garuda Perkasa.


‘’Kita memilih jalur yang menurun saja untuk menghemat coast dan lebih efektif. Kalau harus naik di jalur bukit Garuda, kita butuh pemompaan, memerlukan daya listrik lebih dan pembiayaan lumayan besar,’’jelasnya.

Sulianto melanjutkan, keberadaan Embung Lapri masih bisa diperdalam dan memiliki debit jauh lebih besar ketika dibangun sesuai perencanaan.


Saat ini, kedalaman embung hanya sekitar 2 meter saja, dan sering luber, sampai menggenangi kebun kebun masyarakat sekitar.


‘’Ada kendala lahan, dimana sekitar 50 hektar itu, sebagian belum selesai pembayaran ganti ruginya. Itu lahan dimiliki sekitar 28 warga. Jika persoalan itu selesai, tentu akan ada pengerukan, dan kualitas embung kita tingkatkan lagi,’’katanya.


Persoalan melubernya air di embung memang menjadi masalah lain yang butuh solusi.


Kondisi demikian, sementara hanya diakali dengan buka tutup gerbang air oleh petugas Balai Wilayah Sungai (BWS).


‘’Ini bertentangan dengan konsep embung yang menampung air sebanyak banyaknya. Inilah yang butuh solusi cepat dan sesegera mungkin ditangani. Pulau Sebatik adalah pulau yang hanya mengandalkan hujan. Kalau air justru terbuang, itu kerugian juga,’’jelasnya.

 


Sulianto berharap, kasus sengketa lahan bisa segera terselesaikan dan peningkatan kualitas embung bisa mencakup seluruh kecamatan di Pulau Sebatik.


‘’PDAM kan hanya operator saja. Embung dibangun oleh APBN dan masalah lahan sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah. Harapan kita tentu semua clear, dan pelayanan air bersih bagi masyarakat bisa menjangkau rata, karena air adalah kebutuhan dasar masyarakat,’’katanya.(02)