Mengenal Telu’ Kuliner Favorit Suku Dayak Lundayeh di Nunukan Dikonsumsi Setelah Ditanam Lebih Seminggu

Mengenal Telu’ Kuliner Favorit Suku Dayak Lundayeh di Nunukan Dikonsumsi Setelah Ditanam Lebih Seminggu
Tokoh masyarakat adat Krayan Aprem Tinus.

Nunukan – Suku dayak Lundayeh di Nunukan Kalimantan Utara memiliki makanan favorit bernama Telu’, sebuah kuliner unik berbahan dasar ikan atau daging yang disatukan dengan beras setengah masak, dibumbui garam gunung, lalu dimasukkan dalam tabung bambu kemudian dipendam atau ditanam selama lebih dari sepekan sebelum dikonsumsi.


Telu’ yang berarti awet dalam bahasa setempat, merupakan makan favorit suku dayak Lundayeh dan masih dibudayakan hingga saat ini. Tokoh masyarakat adat Krayan Aprem Tinus mengatakan, Telu’ masih menjadi hidangan yang paling diminati oleh masyarakat dari segala lapisan, baik tua maupun muda di wilayah terisolir yang merupakan perbatasan Republik Indonesia dengan Malaysia ini.


‘’Itu (adonan telu’) diletak dalam tabung bambu ditutup rapat, ditanam di dalam tanah atau ditenggelamkan di lumpur tengah sawah, lebih seminggu, baru bisa dimakan,’’ujarnya, Sabtu (04/07/2020).


Ditanamnya Telu’ bukan hanya bertujuan menghindarkan makanan tersebut dari gangguan binatang, aroma khas daging akan memancing binatang mendekat, sehingga cara yang paling aman adalah menenggelamkan bambu berisi adonan Telu’ di dalam lumpur tengah sawah.


Lama proses pendam sebelum konsumsi dimaksudkan sebagai proses fermentasi alami, Telu’ atau makanan lain di suku dayak lundayeh memang serba alami dan jauh dari bahan bahan kimia.


‘’Kita hanya mengandalkan garam gunung, paling untuk MSG atau vetsin kita pakai daun Afa’ yang banyak tumbuh liar di hutan, tapi kalau telu’ cukup hanya garam gunung, Krayan terkenal dengan produksi garam gunung,’’jelasnya.


Setelah sekitar 10 hari, telu’ sudah bisa dikonsumsi, saat bumbung dibuka, sebagaimana dijelaskan Aprem, bau menyengat akan menyeruak, namun aroma tersebut tidak akan lagi dipermasalahkan ketika mulai mencicipi makanan khas Lundayeh tersebut.


Meski rasanya sedikit asam karena mengalami fermentasi, namun telu’ selain nikmat juga bersifat awet, Telu’ bahkan tahan berbulan bulan, jika ingin menyimpan dan mengkonsumsi Telu’, kita tinggal menghangatkannya saja agar lebih nikmat.


‘’Kalau aromanya memang tidak sedap, tapi setelah makan, dijamin ketagihan, masyarakat sini saja kalau sudah makan Telu’ dengan beras adan khas Krayan yang masih ngebul, bisa habis tiga piring,’’tuturnya berkelakar.


Aprem yang merupakan ketua persekutuan Dayak Lundayek kecamatan Krayan ini mengatakan, saat ini proses memendam Telu’ di tengah sawah sudah jarang dijumpai, masyarakat setempat kini memilih toples atau tempayan untuk membuat telu’, dan rasanya tentu tidak sama.


Namun demikian, Telu’ tetap menjadi makanan khas nan favorit bagi suku dayak Lundayeh, ia meyakinkan pembuatan Telu’ diwariskan turun termurun dan akan selalu dijaga kelestariannya.


‘’Cuman setiap orang rasanya pasti beda beda Telu’nya, padahal resepnya sama, jadi Telu’ itu selain makanan khas, ada cara cara masak tertentu yang hanya diketahui masyarakat Lundayeh,’’kata Aprem.


Selain Telu’ makanan yang tidak kalah unik adalah Bitter, berbeda dengan Telu’, Bitter berbahan dasar dari ragam sayuran hijau yang dicacah halus, atau kadang menggunakan jamur, dan dimasak dengan nasi dengan bumbu afa’ (tanaman penyedap rasa). 


Bitter atau bubur ala masyarakat adat Lundayeh bisa langsung dikonsumsi setelah masak, dari penampilan, Bitter tak berbeda jauh dengan bubur Manado, perbedaan paling mencolok adalah cacahan sayur dan tidak adanya unsur kimia (MSG) dalam masakan khas Lundayeh tersebut.


Kedua makanan ini memang jarang dijumpai di luar Krayan termasuk di pusat kota pemerintahan di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara, selain kondisi geografis Krayan yang hanya bisa ditempuh dengan transportasi udara dari Nunukan, nama Telu’ bahkan kurang familier, sehingga lidah masyarakat selain suku dayak Lundayeh belum terbiasa mengkonsumsi makanan yang menjadi warisan turun temurun suku yang mendiami tapal batas ini.


‘’Kalau mau mencoba datang ke Krayan, meski jarang yang menjual Telu’, tapi pasti ada saja masyarakat kita yang punya persediaan,’’katanya.(Dzulviqor)