Nunukan Ekspor 67 Ton Rumput Laut ke RRC

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri pada Dinas Perdagangan Nunukan Yoseph, S.T M.T mengatakan, ekspor kali ini merupakan ekspor perdana yang langsung dari Nunukan.

Nunukan Ekspor 67 Ton Rumput Laut ke RRC
Budidaya rumput laut di Nunukan
Nunukan Ekspor 67 Ton Rumput Laut ke RRC

Nunukan - Sempat terhenti dalam melakukan ekspor rumput laut jenis cottoni ke negeri ginseng Korea, kini Pemkab Nunukan Kalimantan Utara mulai melakukan ekspor kembali.

Ada sekitar 67 ton rumput laut yang diekspor oleh PT.Sebatik Jaya Mandiri milik H.Arif, namun kali ini tujuan ekspor adalah Republik Rakyat China (RRC).

Kepala  Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri pada Dinas Perdagangan Nunukan Yoseph, S.T M.T mengatakan, ekspor kali ini merupakan ekspor perdana yang langsung dari Nunukan.

"Kemarin perusahaan pengekspor statusnya masih CV, itu jadi kendala sehingga membonceng perusahaan lain, sekarang sudah naik kelas menjadi PT, nah itulah ekspor kembali berjalan,"ujarnya, Selasa (29/10/2019).

Ekspor kali ini, Pemkab Nunukan mengirimkan 4 kontainer menggunakan transportasi kapal barang Verizon dengan berat sekitar 67 ton, dengan rincian 1 kontainer langsung dikirim ke RRC sementara 3 kontainer lain dikirim melalui Surabaya Jawa Timur.

67 ton tentu saja jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan penghasilan pembudi daya rumput laut Nunukan yang menghasilkan 3000 ton setiap bulannya.

Untuk itu, perlu kerja ekstra bagi Pemerintah dalam mengakali persoalan ini, karena perdagangan sistem ekspor akan lebih cepat memutar perekonomian di Nunukan.

"Terkait harga ekspor tentu akan lebih mahal dari penjualan lokal yang dihargai Rp.18.000 per kilonya,"jelas Yoseph tanpa menyebut berapa harga ekspor.

Untuk meningkatkan ekspor, Dinas Perdagangan berkoordinasi dengan Dinas Perikanan dalam peningkatan mutu dan memberi sosialisasi terkait keuntungan ekspor dan berharap rumput laut yang siap ekspor memiliki kadar kekeringan 14-15.

Saat ini, bahkan Pemkab Nunukan sendiri belum membebankan biaya retribusi kepada pengusaha, sehingga PAD dari sektor ekspor rumput laut masih nihil, namun, kata Yoseph, ketika ekspor sudah berjalan sesuai harapan, retribusi baru akan diberlakukan.

"Posisi Disperindag kan marketing, kita cari investor, hambatannya terkadang para petani hanya mentingkan kuantitas, kualitas tak dijaga, sehingga banyak yang tertolak, itu keluhan eksportir, sehingga kita koordinasi dengan perikanan, tiram banyak juga, saat penjualan include dengan tiram sehingga merugikan eksportir nantinya,"katanya. (Dzulviqor)