Pokdarwis Bagen Tawai, Jaga Budaya Lokal dan Serukan Harmoni Dalam Keberagaman Sosial Budaya

Pokdarwis Bagen Tawai, Jaga Budaya Lokal dan Serukan Harmoni Dalam Keberagaman Sosial Budaya
anggota Pokdarwis Bagen Tawai membuat kerajinan. komunitas Pokdarwis Bagen Tawai diresmikan oleh Kadis pariwisata Nunukan pada 28 Februari 2020 di rumah Suku Adat Kenyah Desa Sekaduyan Taka Seimanggaris
Nunukan – Komunitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bagen Tawai di Desa Sekaduyan Taka Kecamatan Sei Manggaris Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara, mencoba eksis untuk menjaga kebijakan lokal dan perbedaaan budaya di perbatasan RI – Malaysia. 
 
Kelompok yang mayoritas anggotanya adalah suku Dayak Kenyah ini, mengajak warga perbatasan untuk berpegang teguh pada frasa Bhinneka Tunggal Ika.
 
Seruan ini diucapkan oleh Ketua Pokdarwis Bagen Tawai, Rici Sugianto. Warning tersebut berkaitan dengan keragaman budaya yang dewasa ini kerap memicu konflik sebagai reaksi keragaman yang tidak dipahami sebagai kemajemuk¬an dan keharmonisan. 
 
‘’Kesadaran atas budaya yang berbeda memungkinkan untuk saling mempelajari cara-cara berkomunikasi yang unik sehingga semangat keragaman budaya terus bertunas dan menjadi benih harmoni,’’ujar Rici, Minggu (09/01/2021).
 
Rici menegaskan, bagi suku Kenyah, harmoni dalam keberagaman sosial budaya adalah keselarasan atau keserasian dalam kekayaan sosial dan budaya yang bertujuan untuk menjaga persatuan dan kesatuan.
 
Pokdarwis Bagen Tawai juga sudah berikrar dan berkomitmen menjaga kearifan lokal dalam rangka mencegah konflik sosial, penyebaran radikalisme.
 
Pokdarwis juga akan berdaya dalam urusan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat perbatasan.
 
Warga Kenyah, masih mengimani dengan kuat, bahwa harmoni dalam keberagaman sosial budaya menjadi urat nadi untuk mencapai keserasian, dan keselarasan.
 
‘’Hal tersebut adalah cerminan dari Bhineka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetap satu jua,’’tegasnya.
 
Masih kata Rici, kita semua hidup di satu komunitas besar yang disebut komunitas budaya.
 
Masyarakat Dayak, dan masyarakat adat manapun, semuanya telah mapan dengan kebudayaannya. 
 
Mereka masing masing unik dan memiliki warisan sejarah yang kaya, unsur itu kemudian dipadu padankan yang kemudian menyatukan mereka menjadi Indonesia. 
 
Pokdarwis Bagen Tawai, diresmikan oleh Kadis pariwisata Nunukan pada 28 Februari 2020 di rumah Suku Adat Kenyah Desa Sekaduyan Taka Seimanggaris.
 
Sejauh ini, mereka sudah melakukan beberapa pengkajian potensi wisata, baik alam, budaya (seni tari), wisata kuliner, serta potensi kerajinan tangan yang telah lama dibuat tetapi belum memiliki pangsa pasar.
 
Mereka membuat sejumlah kerajinan, seperti anyaman etnik, kalung, gelang, topi, sampai gantungan kunci.
 
Sebagai usaha promosi kekayaan alam di wilayah ini, mereka mendesain kaos dengan gambar segala hal yang berkaitan dengan adat istiadat dan budaya.
 
Dalam usahanya, Pokdarwis Bagen Tawai mendapat support dari Dinas Sosial Provinsi Kaltara dan Dinsos Nunukan.
 
‘’Dukungan diberikan dengan cara mengupayakan Pokdarwis Bagen Tawai mendapat bantuan dari Kementrian Sosial. Terima kasih untuk supportnya,’’kata Rici.
 
Selain usaha mandiri kemasyarakatan, Pokdarwis ini juga tengah berupaya melestarikan batik asli Nunukan yang dikenal dengan nama batik Lulantatibu. 
 
Batik dengan corak gabungan dari 4 etnis, masing masing, Dayak Lundayeh, Dayak Tagalan, Dayak Taghol, Dayak Tidung dan Bulungan, dilambangkan sebagai persatuan.  
 
Batik Lulantatibu sendiri saat ini telah dipatenkan dan resmi menerima HAKI pada bulan Mei 2017.
 
‘’Pokdarwis Bagen Tawai hadir untuk mempertahankan nilai luhur yang ada di masyarakat. Salah satunya melestarikan seni musik, seni tari, music tradisional kulintang, serta mencapai sejahtera dari destinasi wisata alam, budaya dan sejarah,’’kata Rici.(02)